Aktivitas Load Out

26 01 2009

Akhirnya ada waktu juga untuk menumpahkan kepenatan di kepala setelah disuruh sana sini nyiapin dokumen terkait aktivitas project yg terus bertambah. Well, kali ini sedikit ilmu tentang load out yg umumnya dilakukan setelah banyak persiapan dilakukan. Load out/ on loading adalah aktivitas memindahkan modul platform dari darat ke laut di atas suatu vessel (Tongkang, ponton, HLV, dll) untuk kemudian dipasang di site dengan metoda float over (Memanfaatkan pasang surut dan ballasting pompa).

Metoda Load out

Pelaksanaan load out dapat dilakukan dgn berbagai metoda seperti strain jack, jacking, winch pull method dan lifting. Sedikit yg saya tahu strain jack bekerja dengan menekan skid shoe melalui bantuan sistem hidraulik dan sling baja, simpelnya setelah sling dicengkram oleh lock system maka hydraulic bekerja perlahan mendorong skidshoe bergerak sampai batas jangkauan maksimum dan berhenti kembali untuk release sling dan lock maju kembali untuk mencengkram sling demikian berulang.

After Load Out

Berbeda dgn winch pull method, dia bekerja dengan menarik skid shoe yg sudah ditumpangi deck. Winch ini bekerja dengan sistem mekanis dibantu dengan roda bergigi yg ada di dalam mesin sehingga dapat dilakukan secara kontinu tanpa perlu berhenti. Tentunya winch pull ini memerlukan shackle dan sling kapasitas besar yg termasuk special category. Sebagai gambaran, untuk deck mencapai berat 5000 ton diperlukan ullage ponton hingga 5 meter atau lebih.

Bisa dikatakan proses load out bergantung pada gelombang pasut, artinya dilakukan saat air sedang pasang dibantu dengan ballasting pump. Proses mulai dilakukan setelah diperoleh izin dari klien dan hasil weighting (Penimbangan) dan persyaratan dokumen lainnya telah diperoleh.

Single Deck

Diawali dengan pre meeting di site dan persiapan awal yg dihadiri kontraktor, asuransi dan klien maka aktivitas sudah dapat dimulai. Penarikan awal skid shoe dari winch yg tlh dipasang di ponton ataupun di darat akan dikontrol melalui load cell yg dipasang pada masing-masing wire rope sling. Pada beberapa pengalaman, pada beban mencapai 3000 ton, tarikan sebesar 8 ton pada masing skid shoe sudah cukup menggeser deck dari prediksi awal yg mencapai 30 ton pada masing kaki. Hal ini menunjukkan koefisien gesek yg relatif kecil antara skid shoe dan skid way. Rahasianya terletak pada pelumas yg telah diberikan sebelumnya (Pada awal masa konstruksi) dan saat pelaksanaan di sepanjang skidway menuju ponton. Besar tarikan ini lambat laun berkurang setelah deck bergerak perlahan dan kontinu. Dari rangkaian ini maka hydraulic jack yg sdh terpasang di belakang skid shoe tidak perlu dioperasikan, karena tidak terjadi overload pada winch ataupun sling. Namun, pada beberapa pengalaman lain, terjadi getaran/ vibrasi di seluruh badan struktur saat terjadi penarikan awal dari winch dan operasi hydraulic jack. Jelas koefisien gesek menjadi faktor penting yg patut diperhitungkan untuk proses load out.

Setelah penarikan mencapai bibir dermaga dan berada di atas connection bridge (Jembatan dermaga – ponton) maka ilmu ballasting mulai diberlakukan pada barge.Dari seseorang engineer yg saya kenal, cukup diberikan beda 10 cm antara level dermaga dengan ponton untuk aktivitas ini. Secara sepintas masuk akal, karena ketika ponton sedang bergerak naik maka skid shoe pertama mulai masuk dgn dibantung proses pump out dari dalam compartment stern kapal (Buritan) namun lebih baik jika dilakukan dengan perhitungan eksakta karena perhitungan pasut dapat diprediksi seakurat mungkin sehingga kita tahu berapa air yg harus kita keluarkan dari setiap penambahan beban/berat pada tahapan kerjanya. Namun, hal di atas tidak berlaku bila ponton berupa HLV (Heavy Lifting Vessel), karena proses load out dilakukan otomatis dari komputer pusat di kapal. Cukup diberikan beban yg akan dimasukkan maka kapal apayg harus dilakukan. Pada beberapa kejadian setiap keterlambatan ponton sederhana kapasitas hingga 5000 ton maka kontraktor akan menanggung denda 1000 $ US per hari, jumlah yg sgt besar untuk ditanggung sehingga peran engineer load out menjadi titik penentu proses ini.

Pada metoda liting, dimana tidak terlalu dipengaruhi oleh gelombang pasut, cukup disiapkan perlengkapan rigging seperti sling, shackle, spreader beam dan crane barge sesuai kapasitas beban. Bow shackle juga tersedia hingga mencapai kapasitas 1500 tons WLL dengan berat hampir 3 ton per unit. Diperlukan crane lain untuk mengangkat dan memasang shackle ini pada padeye, spreader beam dan hook.

 CJP (260109)


Actions

Information

2 responses

15 04 2009
indomigas

Pak PHB,

Senang rasanya sdh ikut meramaikan blog ini. he3, beliau ini termasuk senior di bidangnya dan sudah terlibat pada byk project spt blok tangguh, blok mahakam, dsb.

Salam,
CJP

14 04 2009
phb7

Wah langsung tancap niy, first job langsung di-expose ke wordpress, bakalan jadi penulis ni,

oke teruskan perjuanganmu pren, kerjaan tambah banyak tar

salam dari site




%d bloggers like this: