Subcontractor, we need

14 12 2008

Judul di atas hampir mirip dgn kampanye Barrack Obama, he3. Sebenarnya, apa yg tjd spt krisis kmrn mrpkan perhatian kita tapi lbh dr itu America it justAamerica, mau siapapun presidennya sy pikir tdk membawa byk perubahan thdp Indonesia, harus berdiri di atas kaki sendiri, maksud sy tdk terlalu bergantung kpd ngr lain (Bkn hanya America, mngkn Rusia, China) khususnya pd objek2 yg sifatnya vital kpd negara. Sayang pula yg meng”hire” perusahaan sy adlh asing, sebenarnya sy lbh suka bila yg memberi proyek adlh bangsa kita sendiri spt pertamina, dsb. Tapi bila disewa u/ proyek di ngr lain memang tdk apa2 krn akan di ekspor. Jadi spt ada konflik batin disini, mengapa negaraku di oprek2 jg sama bule2, this is my country. You aren’t supposed to be here.

Bkn sok Nasionalisme, but bila ingin kuat kita hrs mau berjuang dan punya daya saing lebih. Bila trend konsumsi kita uda menjurus ke ngr sendiri, maka yg terjadi akan luar biasa. Saya yakin Indonesia menjadi tmpt bergantung ngr lain. Sy pikir, byk ilmuwan, engineer , dokter, motivator kita yg mampu u/ berkreasi asal didukung oleh masyarakat dan ngr kita sendiri. Namun apa yg tjd skrg adalah lbh ke attitude kita yg spt anak kecil, tidak disiplin, malas, lambat, tanpa kontrol yg  jelas, dsb. Sifat2 yg ada di masyarakat spt itulah yg hrs diubah mulai sekarang, mau tidak mau otak dan otot hrs diputar, saya kira ini jg tdp spt di Hadist Nabi: “Bekerjalah kamu seolah2 akan hidup selamannya dan Sholatlah km seolah bsk akan mati”. Mgnk itu yg ada di kepala sy saat ini. Oke, kembali lg ke masalah manajemen project.

Air cooler Lifting

Yes, we need subcontractor.

Suatu Perusahaan besar biasanya akan mempunyai sub-perusahaan seperti pula yg tjd pada perusahaan kontraktor. Sub perusahaan ini disebut jg subkontraktor atau subkon. Adapun yg mengontrol setiap aktivitas proyek seperti progress report adalah PM (Project Manager) dan bertanggung jawab kpd corporate manager dan vice president operasional. Ada beberapa keuntungan mengapa ada sistem subkontrak:

  1. Manhour ratio yg lbh tinggi
  2. Pada case tertentu didpt kualitas dan produktivitas yg tinggi
  3. Budget yg lbh pasti

 

Manhour ratio maksudnya perbandingan antara durasi pekerjaan dengan aktual di lapangan/kantor. Manhour ratio yg baik tentu mempunyai efektivitas yg baik artinya perusahaan diuntungkan, tentunya tdk semua subkon demikian. Pada kenyataannya ada pula yg bandel, namun over all bila finance tidak telat bayar maka akan baik/lancar jg suatu pekerjaan (Ini pelajaran yg diambil agar kita tak menunda suatu pekerjaan, krn dampaknya akan berpengaruh kpd org lain, apalagi klo sdh urusan progress dan menyangkut ke pembayaran). Dengan budget yg lbh pasti maka kita akan lbh mudah untuk memonitor dan memastikan proses proyek. Namun ada beberapa kerugian seperti:

  1. Peralatan, manpower dan perlengkapan yg terkadang minim.
  2. Tidak reliable thdp variation order (Addendum Kontrak) 

Untuk itu pula kita mempunyai tool u/ mengontrol subkon spt:

  1. Term and Condition yg diberikan saat awal pemerian kontrak dlm tender spt batasan waktu, syarat kualitas/QC, dsb.
  2. Retention money sebagai warranty atau punch list.
  3. Back charge.

Berikut contoh format progress report:

progress-paymentUntuk kemudian progress ini di cek oleh third party/QS (Quantity Surveyor)/QC (Quality Control) dan ditanda tangani, di submit untuk kemudian di buat letter of payment/ payment sertificate dr owner dan invoice dari contractor. Satu hal yg perlu diperhatikan adlh apapun posisinya, keseriusan dlm follow up/memonitor progress proyek dan payment akan membawa dampak positif dan ikut mempercepat selesainya project dgn baik. Sebagai kontakror ataupun sub kontraktor perlu diingat bahwa selain hak kita spt diatas kita jg mempunyai kewajiban thdp karyawan dan jasa2 lain yg dipakai, dan harus dibayar seperti backcharge, gaji, kebutuhan, tunjangan karyawan dsb. Pada akhirnya, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, hal2 yg vital dan menjadi concern dlm penentuan dokumen kontrak adalah:

  1. Term & Condition of Project Contract Document seperti RFQ (Request for Quotation and Agreement)
  2. Progress Report yg aktual dan accountable
  3. Penerapan retensi, back charge yg fair

(CJP-141208)


Actions

Information

2 responses

16 03 2009
indomigas

Pak Bangun, terima kasih banyak atas responnya. Semoga bisa diambil hikmah bagi pembaca yg ada disini. Saya setuju dgn pendapat bapak bahwa modal dalam segala bentuknya merupakan kunci pokok dalam suatu project.
Saya akan menceritakan satu contoh dari bos saya sewaktu kuliah dan saya kira Pak Bangun jg tlh mengetahuinya. Sebut saja bos saya itu bapak Farid.
Beberapa tahun yg lalu tepatnya saat pembangunan suatu project yg melibatkan byk vendor untuk persewaan alat berat, Ada beberapa kandidat terakhir yg sdh lolos. Sebut saja vendor A, B dan C. Pada akhirnya Vendor A-lah yg menang yang memang secara kualitas dan spek memenuhi persyaratan dan harganya pun termurah. Setelah beberapa waktu, Pak Farid ditelfon oleh bos vendor A tsb untuk meminta no.rekening beliau untuk dikirimkan sejumlah uang. Namun dengan serta merta Pak Farid menolak untuk memberikan no. rekeningnya dengan catatan untuk proyek ke depan beliau meminta diskon harga.
Setelah project selesai, Pak Farid terlibat dgn project kalau ga salah pembangunan jembatan beton bertulang pd ruas tol Cipularang. Saat project sedang peak dan masa kritis, alat berat yg dipakai mengalami kerusakan, padahal pekerjaan hrs segera diselesaikan karena bersifat sgt urgent. Pak Farid tidak mempunyai cadangan ataupun solusi lain yg mengharuskan dia meminta bantuan pd Vendor A yg dulu pernah membantunya. Apa yang terjadi?? Semalam setelah beliau telfon untuk dikirim alat berat, keesokan harinya alat berat cadangan telah ada di depan kantornya tanpa Purchase Order.
Luar biasa, disini ditunjukkan bahwa KEPERCAYAAN merupakan modal yg tak bernilai. Jujur saja, dalam hidup ini, saya baru mendengarkan cerita spt ini langsung dr Pak Farid.
Kembali lagi ke pokok permasalahan, orang seperti Pak farid ini hanya bisa dihitung dengan jari namun lbh dr itu marilah kita ubah perspektif orang Indonesia agar bisa menjadi pribadi yg mulia spt Paf Farid ini, bahkan lbh baik lg misalnya ya cerita kaya gitu mah ga usah diomongin biar pahalanya ga hilang, he3.
Last but not least bahwa tiap org tidak akan dpt berdiri setinggi gunung ataupun jatuh sedalam palung laut.
Btw, semoga projectnya jadilah biar bisa makan2. He3

CJP-160309

16 03 2009
BGN

Pak Catur, menarik sekali pembahasannya mengenai ideologi anda yang ingin agar indonesia “berdikari” alias berdiri di atas kaki sendiri.

Menurut sepengetahuan saya, bangsa kita memang mampu untuk mengerjakan seluruh kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi dalam unsur pengetahuan. Malah, lebih dari mampu kalau menurut saya, karena terbukti begitu banyaknya engineer-engineer indonesia yang direkrut di luar negeri.

Menurut saya, masalah yang kita hadapi saat ini adalah kembali ke masalah UANG. Untuk mengerjakan seluruh proyek eksplorasi dan produksi dibutuhkan banyak sekali biaya, saya pernah berbincang dengan salah satu petinggi perusahaan owner di Indonesia, bahwa dana yang dibutuhkan untuk membuat sebuah project dari mulai eksplorasi dan produksi (membuat peta seisimik, pengeboran, pembuatan struktur bangunan, pipeline, produksi, proses pemisahan, pengiriman) hingga project tersebut dapat menghasilkan uang (dapat menjual migasnya) dibutuh kan dana sekitar 50 triliun rupiah.

Kira2 sebesar itulah dana yang dibutuhkan oleh Pertamina untuk membuat sebuah project.

Yang menarik disini adalah, saya juga baru tahu kalau ternyata seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan owner ini diganti penuh oleh bangsa kita (Pertamina). Lalu dengan sistem pembagian 85:15 (Pertamina:investor) perushaan owner tersebut mendapat keuntungan yang sangat luar biasa. Jadi kasarnya, begitu perushaan tersebut mulai berproduksi, maka pada saat itu pula lah, mereka sudah balik modal, dan tinggal ongkang2 kaki di negara kita, mengeruk keuntungan. Luar biasa.

Sekarang pertanyaan yang muncul bagi generasi penerus (kita?) adalah, bagaimana cara kita bisa mendapatkan modal yang sedemikian besar untuk memulai sebuah project kemandirian? Mudahnya adalah dengan mencari pinjaman, akan tetapi bank manakah yang mempercayakan uangnya kepkada kita dengan segala kebobrokan birokrasi, politik, serta busuknya pejabat-pejabat bangsa kita?

Yah, semuanya kembali kepada citra bangsa kita ternyata, citra dari para petinggi-petinggi bangsa kita yang mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia.

Sekian kiranya analisa dari saya. please, correct me if am wrong.




%d bloggers like this: